Penyakit Darah Tinggi (Hipertensi)


Tekanan darah tinggi atau hipertensi adalah kondisi medis di mana terjadi peningkatan tekanan darah yang terjadi dalam jangka waktu yang lama. Tekanan darah pada kondisi normal adalah 120/80 mmHg, angka 120 disebut tekanan sistolik dan 80 adalah tekanan diastolik. Tekanan sistolik adalah tekanan pada saat jantung berkontraksi, sedangkan tekanan diastolik adalah tekanan pada saat jantung relaksasi. Pada tekanan darah tinggi, biasanya terjadi kenaikan tekanan sistolik dan diastolik. Hipertensi biasanya terjadi pada tekanan darah 140/90 mmHg atau ke atas, diukur di kedua lengan tiga kali dalam jangka beberapa minggu. Tekanan darah yang selalu tinggi adalah salah satu faktor risiko penyakit stroke dan penyakit jantung koroner.


Untuk memastikan bukan darah tinggi palsu, pengukuran sebaiknya dilakukan 3 kali berturut-turut, selang waktu sedikitnya 2 mingguan. Tekanan darah sebaiknya diukur pada pagi hari sebelum melakukan aktivitas apa-apa. Tidak tepat mendiagnosis darah tinggi hanya dari satu kali pemeriksaan dalam kondisi sudah melakukan aktifitas harian. Tekanan darah akan cenderung lebih tinggi dari yang sebenarnya jika diukur sehabis melakukan aktifitas.

Definisi dan klasifikasi level tekanan darah menurut World Health Organization International Society of Hypertension (WHO-ISH) 1999 adalah sebagai berikut :









KategoriSistolik (mmHg)Diastolik (mmHg)
Optimalkurang dari 120kurang dari 80
Normalkurang dari 130kurang dari 85
Normal atas130 - 13985 - 89
Hipertensi ringan14 - 1599 - 99
Hipertensi sedang160 - 1791 - 109
Hipertensi beratlebih dari 180lebih dari 110
Hipertsni sistoliklebih dari 140kurang dari 90
Jika tahu tekanan darah tidak pernah tinggi, mendadak diukur menjadi lebih tinggi dari biasanya, harus diwaspadai. Jangan kelewat cepat memutuskan minum obat sebab kemungkinan dapat berbahaya. Memberi obat yang sebenarnya tidak perlu bisa mengakibatkan tekanan darah menjadi anjlok. Pastikan betul memang tinggi. Mungkin hanya kondisi episodik belaka yang sesungguhnya belum perlu minum obat. Tubuh memiliki autoregulasi untuk menormalkan kembali tekanan darah yang sesaat meninggi.

Pada kelompok usia lanjut, tekanan sistolik cenderung meninggi sebab sudah semakin kaku dan mengerasnya pipa pembuluh darah (arteriosklerosis). Wajar jika tekanan darah sedikit meninggi dan itu yang disebut “hipertensi sistolik”. Darah tinggi hanya sistoliknya saja akan diperburuk jika pembuluh darah juga sudah ber”karat lemak” (atherosclerosis). Kondisi menjadi kaku, keras, dan menebalnya dinding pembuluh darah yang kemudian menyebabkan hipertensi sungguhan.

Penyebab
Menurut penyebabnya, hipertensi digolongkan menjadi dua jenis, yaitu hipertensi primer dan hipertensi sekunder. Sebagian besar secara primer disebabkan oleh faktor-faktor yang diwariskan sebagi bawaan, faktor persyarafan, factor humoral dan faktor pembuluh darah sendiri. Hanya sebagian kecil yang bersifat sekunder, yaitu jika ada kelainan atau penyakit pada ginjal, anak ginjal, kelenjar gondok, atau kelainan pembuluh darah aorta.

Meski dapat terkontrol, hipertensi primer sukar disembuhkan. Tekanan darah baru bisa normal jika minum obat secara rutin. Sedangkan hipertensi sekunder dapat sembuh kalau kelainan penyakit atau penyakit yang mendasarinya teratasi.

Obat untuk darah tinggi, betapapun ringannya, tetapi tetap memiliki efek samping. Jika masih memungkinkan tanpa obat, pilihlah tidak minum obat. Lakukan alternatif lain, seperti diet rendah garam, mengkonsumsi mentimun, belimbing, seledri, bawang putih dan semua yang berpotensi menurunkan tekanan darah, menurunkan berat badan dan rutin bergerak badan. Selain itu, kurangi kopi, berhenti merokok dan minum minuman keras, dan mengendorkan stress mental.

Kendalikan tekanan darah senantiasa paling tinggi 135/85 mmHg untuk orang muda dan 140/90 mmHg untuk usia lanjut, dalam kondisi dengan atau tanpa obat.

Gejala
Umumnya, darah tinggi tanpa gejala dan keluhan yang berarti. Jika muncul juga tidak spesifik, seperti sering pusing, nyeri kepala, dan mungkin lekas lelah saja.

Gejala spesifik baru muncul jika sudah terjadi komplikasi. Komplikasi pada jantung menimbulkan : 1) sesak napas, detak jantung tak teratur, sering mendadak berdebar, tanda mulai payah jantung; 2) penglihatan mulai terganggu, melihat agak buram dan tidak tajam lagi akibat terjadi kelainan retina; 3) mulai timbul gangguan berkemih, air seni makin berkurang tanda mulai gagal ginjal; 4) muncul tanda kepikunan dan tanda awal stroke seperti menulis semakin jelek, tak terampil memakai sandal jepit, tak tangkas menyisir rambut, merupakan awal dari kerusakan atau menciutnya pembuluh darah otak; selain kemungkinan 5) sesak napas dan nyeri dada mendadak tanda serangan jantung koroner akibat kaku, mengeras dan menebalnya “karat lemak” pembuluh darah koroner jantung.

Pemeriksaan Laboratorium
Semakin dini darah tinggi diketahui, semakin kecil terjadi keterlambatan pencegahan munculnya komplikasi. Jika sudah tahu darah tinggi, sebaiknya melakukan pemeriksaan laboratorium selain meminta nasihat dokter andaikata sudah perlu terapi.

Pemeriksaan laboratorium berguna untuk : 1) membantu menemukan penyebab hipertensi; 2) mengetahui sudah seberapa jauh perkembangan darah tingginya, apakah sudah ada komplikasi; 3) mengetahui faktor-faktor yang dapat memperburuk hipertensi, seperti kadar lemak darah, gula darah, asam urat, yang dapat meninggikan resiko stroke, jantung koroner, kerusakan ginjal, system syaraf dan bola mata.

Pemeriksaan laboratorium sebaiknya dilakukan secara berkala, sekurang-kurangnya dua kali dalam setahun. Adapun parameter yang diperiksa adalah : darah rutin, glukosa darah puasa dan 2 jam setelah makan, profil lemak (kolesterol total, HDL/LDL, trigliserid, Apo A1/Apo B), faal ginjal (ureum, kreatinin, asam urat, urine rutin), kalium serum, natrium serum, mikroalbumin, dan rennin (PRA). Untuk pemeriksaan berkala selanjutnya cukup glukosa darah puasa dan 2 jam setelah makan, kalium dan natrium serum.

Mengelola Hipertensi
Jika sudah tahu darah tinggi, apalagi memiliki riwayat keluarga penderita hipertensi (keturunan), maka perlu melakukan pengelolaan agar tidak terjadi komplikasi yang lebih buruk (jantung koroner dan stroke). Beberapa tips mengelola hipertensi adalah sebagai berikut :
  1. Selalu mengontrol tekanan darah secara berkala dan mengupayakan untuk tetap mendekati atau berada dalam batas normal dengan atau tanpa obat.
  2. Jika minum obat anti hipertensi, selalu konsultasikan dengan dokter.
  3. Batasi penggunaan garam dapur (sodium/natrium) dalam makanan. Makanan atau minuman yang mengandung natrium harus dikurangi konsumsinya, seperti ikan asin, dendeng, abon, daging asap, corned beef, sarden dan mentega. Sayuran dan buah kalengan yang mengandung bahan pengawet natrium harus dijauhi. Demikian juga monosodium glutaman (MSG) atau vetsin, petis, tauco, serta bumbu lain yang kadar natriumnya tinggi. Masukan kalium seperti sayuran dan buah-buahan bagi mereka yang fungsi ginjalnya normal sangat dianjurkan.
  4. Kurangi konsumsi kopi
  5. Berhenti merokok dan minum minuman beralkohol
  6. Lakukan gerak badan, paling baik dan sederhana dengan berjalan cepat (brisk walking). Atau dengan berenang, aerobic dan hendaknya dilakukan 30 menit sehari dan 3 kali seminggu. Tidak boleh melakukan olahraga yang isometrik (angkat beban) karena berpotensi meningktakan tekanan darah.
  7. Menurunkan berat badan mendekati berat badan ideal.
  8. Redakan stress dengan latihan relaksasi, istirahat cukup, rekreasi dan upayakan senantiasa berbahagia. Pada kondisi berbahagia, tekanan sistolik turun dan tekanan diastolik naik. Ubah irama, pola dan gaya hidup menjadi lebih kendor. Orang yang berkepribadian keras, tidak sabaran, irama hidupnya perlu dikendorkan.
  9. Lakukan pemeriksaan laboratorium secara berkala, sekurang-kurangnya dua kali setahun untuk mendeteksi lebih dini kemungkinan sudah terjadi komplikasi atau efek samping obat.


www.ihsan.co.nr

Baca Juga Yang Ini



0 comments:

Post a Comment