Siapa sih yang dirinya tidak ingin sehat, tidak ada bukan?
Sehat tidak hanya mengenai fisik, tetapi juga mental, jiwa atau psikhis. Jadi, sehat merupakan kondisi terbebasnya jiwa dan raga dari penyakit.
Sekitar dua minggu yang lalu saya mengantarkan ibu saya pergi arisan ibu-ibu Aisiyah. Seorang ibu didaulat untuk memberi "petuah". Keriput di wajah, rambutnya yang telah memutih sedikit menyembul keluar di balik kerudung yang kedodoran menampakkan usianya yang sudah tidak muda lagi. Bahkan, ketika kulihat sekeliling, beliaulah yang kelihatan paling tua di antara ibu-ibu.
Awalnya kulihat biasa saja, tidak ada yang istimewa, tampaknya biasa saja, seperti kebanyakan orang tua. Sejurus kemudian, kata demi kata keluar dari bibir tuanya dengan nada yang mantap dan dinamis menyihir semua orang yang hadir. Demikian pula aku.
Aku tak hendak membuat cerita fiksi, wahai saudaraku semua. Beliau, orang tua itu berbagi ilmu dan pengalaman bagaimana dirinya tetap sehat sampai usianya yang setua itu. Menurutnya, beliau jarang sekali sakit, paling hanya flu atau masuk angin saja. Kemudian sekata demi sekata beliau sampaikan resep awet sehatnya.
"Kalau ibu-ibu mau tetap sehat, gunakan setik"
Hahh...??!! Serentak, kami semua yang hadir bereaksi sama atas kalimat yang baru saja kami dengar. Gerakannya memang berbeda-beda, tetapi hampir semua menampakkan huruf O di bibir masing-masing (Anda gak usah tanya O-nya bulat atau lonjong).
Setik kami maknai berbeda-beda, ada yang mengira makanan, pemukul drum, dsb. Ternyata bukan!
Resep sehat itu S E T I K - Syukur - Emosi yang terkendali - Tawakal - Ikhlas - Konaah.
Lewat postingan ini saya akan menyampaikan petuah Sang Nenek kepada saudara semua. Semoga bermanfaat.
Pepatah mengatakan, Dalam Tubuh yang Sehat Terdapat Jiwa yang Sehat. Tetapi apakah bisa sebaliknya, Jiwa yang Sehat Menyebabkan Raga yang Sehat? Mari kita kupas bersama-sama.
1. Syukur
Syukur adalah satu kata yang mudah diucapkan tetapi sukar untuk dipraktekkan. Ijinkanlah saya mengutip ayat Al-Qur'an dalam surat An-Nahl ayat 78, “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”Mari kita renungkan. Bagaimana jika kita hidup di dunia ini dalam kondisi buta, tuli dan tidak berakal?
Manusia diciptakan Tuhan dengan kondisi yang paling sempurna dibandingkan dengan makhluk lainnya. Keunggulan manusia dari makhluk lain karena ia dikaruniai rasa dan karsa. Dengan modal itu manusia bisa melakukan segala aktivitas untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun, seringkali kita lupa bersyukur atas apa yang kita miliki dan yang telah kita capai.
Syukur adalah bentuk terima kasih kepada Tuhan. Ada 3 cara bersyukur : (1) syukur dengan hati, (2) syukur dengan lisan, dan (3) syukur dengan perbuatan. Syukur dengan hati dilakukan dengan menyadari sepenuh-penuhnya nikmat yang diperoleh adalah semata-mata karena anugerah dan nikmat dari Allah. Syukur dengan hati mengantarkan manusia untuk menerima anugerah dengan penuh kerelaan tanpa harus berkeberatan betapapun kecilnya nikmat tersebut.
Syukur dengan lidah adalah mengakui dengan ucapan bahwa sumber nikmat adalah Tuhan sambil memuji-Nya. Bagi yang beragama Islam dengan mengucap alhamdulillah dengan senantiasa menjalankan ibadah kepada-Nya.
Syukur dengan perbuatan adalah melakukan aktifitas, menggunakan kemampuan fisik, kesehatan dan ilmu pengatahuan dengan cara-cara yang benar, tidak merugikan orang lain, serta patuh pada norma-norma susila dan agama.
Tuhan telah menjanjikan bahwa jika kita banyak bersyukur, maka Dia akan menambahkan nikmat-Nya kepada kita lebih banyak lagi.
Kadang, orang merasa tidak ada yang perlu disyukuri ketika sedang menerima sesuatu yang tidak membuatnya senang, puas atau bahagia. Misalnya ketika seseorang mengalami kegagalan dalam proses pencapaian suatu tujuan. Saya sangat setuju dengan Mbak Dini, bahwa di balik kegagalan, di balik kesedihan atau di balik ketidaksenangan, pasti ada sesuatu yang bisa disyukuri. Inilah hikmah.
Orang Jawa selalu merasa beruntung meskipun sedang tertimpa kesedihan. Misalnya ketika terjatuh di jalan, ".... untung hanya lecet sedikit, ...untung cuma tulang kaki yang patah..." weleh.weleh.. Ketika Bantul luluh lantak oleh gempa bumi, meskipun rumah dan harta benda banyak yang bilang begini, "...untung kita masih diberi-Nya selamat, ...untung hanya patah tulang, ...dan untung-untung yang lain.
Seberapapun pencapaian yang kita peroleh harus disyukuri. Syukur membuat hati tenteram dan damai. Tidak ada perasan gelisah, khawatir atau takut. Ketenteraman dan kedamaian membuat pikiran dan hati lebih jernih dan tajam dalam memaknai setiap kejadian dalam hidup. Terhadap kesalahan atau kegagalan, dapat menimbulkan semangat baru untuk belajar dari kesalahan atau kegagalan lalu mencoba membuat formula baru dalam memulai proses pencapaian tujuan selanjutnya.
Maaf saudaraku semua, masriswanto mau ronda dulu. Insyaallah postingan selanjutnya saya akan menghadirkan ETIK. Semoga bermanfaat.




0 comments:
Post a Comment