Terheran-heran. Begitulah, suatu kali saya bertemu dengan Tasaro, seorang penulis novel yang karya-karyanya sudah sangat terkenal. Bahkan, sudah sering pula dia mendapat penghargaan sebagai Best Writer. Saya mengenalnya leawat novelnya berjudul "Galaksi Kinanthi : Sekali Mencintai Sudah itu Mati?" Banyak yang mengira, termasuk saya, seorang penulis beken dan sukses seperti dia pasti selalu tampil necis dan selebritis. Tetapi sungguh di luar dugaan saya, dia adalah sosok yang bersahaja, apa adanya.Pada hari Minggu, 17 Agustus 2009 lalu, di Jogja, dalam perjumpaan yang menyenangkan dengan dia dan seorang kawan dari Manado bisa mengobati rasa penasaran saya. Sebenarnya sih, jawaban dia tentang keheranan saya dan teman-teman yang lain sudah disampaikannya di FB. Tetapi belum puas rasanya kalau tidak berinteraksi langsung dengan dia secara live. Saya meminta ijinnya untuk memuatnya di postingan saya ini dan alhamdulillah dia menginjinkannya. Postingan yang panjang (4 halaman kwarto! He..he..he..) kali ini semoga tidak membuat bosan sobat semua untuk membacanya.
Belakangan, saya bertanya-tanya, apa hebatnya orang hidup dengan sederhana?
Beberapa pembaca buku-buku saya berkunjung ke rumah dalam rentang waktu lima tahun terakhir. Mereka mengatakan hal serupa. “Ah, tidak menyangka Mas Tasaro bisa hidup di atas gunung begini.” He… he… oke… iseng mungkin. Basa-basi barangkali. Tapi itu terulang lagi dan lagi, dengan penambahan ekspresi di sana-sini.
Pada titik tertentu saya kemudian bertanya, “Memangnya harus bagaimana hidup sebagai penulis?”
“Ah, namanya juga keluarga muda. Rumah segini juga sudah repot ngurusnya,” kata satu teman.
“Hm … luar biasa, penulis yang bukunya sudah dibaca banyak orang, tapi tetap hidup apa adanya dan bersahaja,” kata kawan yang lain. Dan lain-lain. Intinya sama. Tidak perlu saya katakan, Anda pun tahu apa yang dimaksudkan.
Apakah terlalu sulit untuk menerima ide bahwa hidup bersahaja, fungsional, sesuai kebutuhan bisa jadi sebuah pilihan? Jika tidak, seharusnya apa yang saya pilih dalam hidup, berpikir, memutuskan, dan mempraktikkan cara keseharian adalah hal biasa-biasa saja.
Dengan gaya hidup saya saat ini saja, masih sering dalam 24 jam saya merasa bersalah. Ketika “terpaksa” (karena bertemu dengan klien, misalnya) makan di resto atau mall yang harga seporsinya bisa buat syukuran satu RT, saya merasa berdosa. Saat “terpaksa” (untuk kebutuhan pekerjaan) membeli stelan formal yang harganya cukup untuk menyantuni tunawiswa se-alun-alun (per orang Rp1.000 wakakakakak) sungguh saya merasa ada yang salah.
Seorang pembaca buku saya berdebat dengan kawannya. Gara-garanya soal internet. Kawannya itu tidak mengerti (entahlah mengapa dia bisa serepot itu memikirkan saya) mengapa saya tidak punya sambungan internet di rumah, sehingga hanya bisa OL setiap hari kerja (nebeng di kantor maksudnya). “Penulis dengan banyak buku kok nge-net-nya nebeng.” Kurang lebih semacam itu.
Lain lagi dengan saudara saya yang protes karena saya belum juga bisa menyetir mobil. “Mas harus bisa nyetir. Biar bisa bawa mobil. Biar gak sakit naik motor mulu tiap hari.” Kira-kira begitu.
Ada pula rekan kerja yang asyik memenceti Black Berry-nya sambil melirik HP nokia saya dan berkata, “Masih ada ya HP jenis itu.” Dalam hati saya berbisik, “ngapain OL di layar seimut itu. Bayar pula. Saya, dong, pakai layar yang belasan kali lebih besar (laptop maksudnya), OL-nya gratis pula. Dua-duanya dibayarin kantor. He…he…he…he…”
Dan lain…lain.
Sebentar …. Ambil napas lagi. Tentang internet. Saya ini orang yang demi Allah, semoga saja; tidak pelit, tidak juga superirit. Tapi saya berusaha untuk fungsional. Saya lebih banyak menghabiskan waktu saya di kantor dibanding di rumah. Kalau OL di kantor saja sudah berjam-jam, buat apa menambahkan jam tayangnya di rumah? Kebagian apa keluarga saya?
Ide tentang mobil itu tidak jauh beda. Saya pun tahu menyetir mobil tampaknya sudah menjadi kebutuhan saat ini. Seorang kawan bilang ke saya, pesan bapaknya. “Kamu harus bisa nyetir. Kalau ndak punya mobil sendiri, minimal bisa jadi sopir yang punya mobil.” He…he…boleh juga. Kemampuan itu tentu saja menjadi prioritas bagi saya, tapi tidak hari ini. Begitu banyak hal yang harus dilakukan dan begitu sempit waktu yang tersedia.
Di luar itu, cara pandang kebanyakan orang mengenai penulis pun tampaknya harus dikonfirmasi. Apakah penulis identik dengan keglamouran, berlimpahnya materi? Ini harus diklarifikasi. Mungkin baru tersebut beberapa nama di negeri ini ketika kita membahas penulis yang memperoleh materi berlimpah dari penjualan bukunya. Sebut saja Andrea Hirata, Dewi “Dee” Lestari, dan Habbibburrahman El Sirazy yang konon royalti bukunya miliaran. Lebih banyak penulis Indonesia yang gigit jari saat menerima laporan royalti yang jumlahnya “hanya” ratusan ribu atau kurang.
Sebagian besar penulis Indonesia masih punya pekerjaan lain untuk menopang kehidupan mereka. Saya sendiri editor. Saat ini memegang amanat editor kepala Salamadani Publishing: batas karier kepenyuntingan yang sanggup saya raih di sebuah industri perbukuan. Kopensasi kerjanya lumayan. Mungkin dibandingkan OB di kilang minyak pun jumlahnya masih kalah. Cuma dengan perbandingan yang fair, cukup banyak orang yang antre dan harus bekerja bertahun-tahun untuk mencapai posisi ini. Jadi, nikmat-Nya yang manakah yang harus saya dustakan?
Saya punya mimpi. Kebebasan finansial. Suatu ketika, saya tidak lagi peduli dengan pedapatan per bulan. Di rumah saja. Menemani istri, mengemong anak, dan mengetik di sebuah ruang kerja representatif yang di luar jendela saya melihat gunung-gunung dan alam pedesaaan. Saya ambisius, tapi terkendali. Jika punya mimpi, saya mengejarnya sampai termimpi-mimpi dan mewujud suatu hari. Tapi saya, insyaAllah, tetap akan menjadi saya.
Anak gunung yang ketika Gunung Kidul kekeringan dan orang tua tak sanggup membeli air bersih, saya membelah tomat dari kebun menaburinya dengan gula dan menyeruput kandungan airnya. Wong ndeso yang selama semasa kecil sanggup makan nasi bertabur garam tanpa merasa menjadi orang termiskin di dunia. Saya nikmati saja.
Ketika anak-anak lain dibelikan BMX keren, saya puas dengan sepeda onthel bapak yang untuk naik di sedel-nya pun tinggi tubuh saya belum sampai. Saya memakai pakaian bekas saudara, dijahitkan baju bahan PGRI (ibu saya guru sodara-sodara!) saat lebaran, dan makan tempe di kegelapan sementara ibu saya berbisik, “ini ayam, Le. Makan yang kenyang.”
Saya tahu itu tempe. Tapi saya menganggapnya ayam. Tidak ada air mata untuk sebuah keterdesakan. Nikmati saja. Saya pernah berkata ke ibu saya, dahulu kala, “Bu, nanti kita beli rumah yang lantainya marmer putih, ya. Biar kelihatan bersih.” Kami tidak pernah punya rumah sendiri. Hidup dari kontrakan ke kontrakan. Kadang rumah dinas. Ibu saya menjawab, “Nanti kalau kamu besar beli sendiri. Sekarang Ibu cuma bisa ngasih ini.”
Dan, rumah tipe 36 yang masih saya cicil di Jatinangor itu rumah impian saya ketika kecil. Mungil, berlantai putih dan tidak kotor oleh tanah. Inilah mengapa saya sangat suka surat Ar-Rahman; nikmat-Nya yang manakah yang akan saya dustakan?
Saya sama sekali tidak ingin membuat sebuah lompatan mengerikan dari anak kampung yang serbakekurangan menjadi manusia yang bergaya hidup jet set dan tidak terkendali. Sebab, tidak semua hal layak kita lakukan hanya karena kita mampu melakukannya. Menurut saya begitu.
Seorang sahabat yang saya sayangi tidak terbiasa lagi makan di warteg. Saya suka salah tingkah sendiri setiap jalan-jalan dengan dia. Maunya ke kafe ini restoran itu. Berduit memang dia. Saya bisa masuk ke gaya hidup dia, tapi dia kesulitan untuk bisa seperti saya. Duh, nikmatnya makan di angkringan sembari mencomot gorengan, sate usus, nasi kucing, dan menyeruput teh panas, ngerokok sedikit. Saya pikir jika dia membaca tulisan ini, besok dia akan mengajak saya nongkrong di angkringan semalam suntuk. (wakaakkakak..) Sekadar ingin menegaskan. Beginilah saya.Kira-kira begini.
Nah!!!!!! Sementara orang melihat saya dari sudut pandang itu, sebagian lain justru salah kaprah dalam sudut pandang yang kronis. Beberapa kenalan (hai guys!) melihat saya sebagai sosok yang ambisius untuk menjadi orang terkenal, punya fans banyak, dikejar-kejar tanda tangan, bla…bla…bla…
WOW! Pikir saya. Drastis betul!
Sebentar…. Ini juga butuh penjelasan panjang. Seseorang yang FB-nya nge-link ke saya berkata, “Lu kan necis baru sekarang, Bet. Ngarep jadi artis!” Seseorang lain yang juga nge-link dengan saya, bilang, “Iya. Tapi artisnya baru artis FB.”
Kita kupas, yuk!
Artis dari kata art yang artinya seni. Artis = seniman; orang yang memiliki bakat seni dan berhasil menciptakan dan menggelar karya seni (Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi keempat/gramedia).
Seniman tidak ada hubungannya dengan ketenaran, fans, tanda tangan, wartawan, koran gossip, dan infotainment. Seniman ya seniman saja. Berkarya seni. Melakukan pekerjaan seni. Dan, sama sekali tidak ada urusan dengan kebanggaan, kesombongan, jaim, dll. Jadi saya tidak merasa sombong ketika saya melakukan pekerjaan seni. Seni menganyam kata-kata. Jadi saya seorang seniman. Apa yang berlebihan dengan itu?
Barangkali yang dimaksud kawan tadi adalah selebritas. Saya sok seleb. Sok menjadi publik figur. Minimal ngarep jadi selebritas. Nah, selebritas artinya pesohor, orang yang hidup dengan keterkenalannya. Kata Sujiwo Tedjo, selebritas itu penghibur. Jadi dia lelaki penghibur. Lelaki yang membuat orang terhibur, senang, gembira, bahagia.
Selama lima tahun terakhir saya menulis buku, saya menulis saja. Saya tidak sedang berusaha menghibur orang, menginspirasi orang, bla ….bla…bla…Jadi saya bukan lelaki penghibur, saya bukan selebritas, saya bukan pesohor, saya tidak sedang mencari ketenaran.
Cukup menjawab saya pikir, mengapa saya mengerutkan dahi ketika orang mengatakan saya sok necis, sok selebritis. Apakah berlebihan jika saya memakai stelan jas pada saat memberi training kepenulisan? Wong setiap sabtu saya ngantor pakai jeans dan kaos oblong.. he…he…he…
Kepada seorang sahabat yang juga saya cintai, saya mengatakan, “Pujian dan cacian tidak akan berpengaruh banyak buat saya. Sama saja. Bertambah satu atau berkurang satu. Sama saja.” Sesuatu apa yang bisa dianggap hebat dan bisa disombongkan dari apa yang saya lakukan. Novel saya terjual puluhan ribu copy, Dee sudah melakukannya, Kang Abik lebih-lebih (jutaan bukunya terjual), Andrea begitu pula.
Kalau kemudian benar buku saya difilm-kan, Kang Abik sudah duluan, Andrea begitu pula. Jadi di mana ruang untuk mengunggulkan diri? Tidak … saya tidak berminat untuk itu. Saya senang menulis, saya senang berinteraksi dengan pembaca tulisan saya, dan saya menikmati ketika tulisan saya direspons orang lain. Untuk sebuah awal dari persahabatan yang mencerdaskan.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Seperti yang disampaikan oleh Tasaro, seorang pengarang novel yang meraih beberapa penghargaan sebagai Best Writer (FLP Award 2005, IKAPI Award 2006 & 2007, dan banyak lagi). Novel-novelnya di antaranya adalah WANDU : Berhentilah Menjadi Pengecut, Di Serambi Makkah, Galaksi Kinanthi, Sang Penggenggam Hujan, dan lain-lain.




5 comments:
salam sobat
wah senangnya ,,sobat bisa berjumpa dengan penulis "Tasaro",
coba saya ada disini,,ingin ikutan pastinya.
NURA @ : ..ha..ha..ha..ha.. iya, pasti sobat juga akan saya ajak
waw.... benar-benar bersahaja..
Wah, pengalaman yang menyenangkan, Mas. Jadi pengen ikutan diskusi santai juga sama Tasaro :) Pasti asyik...
walah saya malah belum tahu tasaro...
gaptek nih mas...tahunya baru andrea hirata, dee sama habiburrahman el sirazy
Post a Comment