Diabetes Mellitus atau dikenal dengan istilah “kencing manis” adalah suatu penyakit yang ditandai dengan keadaan hiperglikemia (kadar gula darah yang tinggi) akibat gangguan hormonal yang yang dapat menimbulkan berbagai komplikasi pada organ tubuh seperti mata, ginjal, syaraf, dan pembuluh darah.
Hiperglikemia terjadi karena tubuh tidak dapat menghasilkan atau menggunakan hormon insulin secara cukup. Insulin diproduksi oleh kelenjar ludah perut (pancreas), bertanggung jawab dalam mempertahankan kadar gula darah yang normal. Saat setelah makan atau minum, terjadi peningkatan kadar gula darah yang merangsang pankreas menghasilkan insulin untuk mencegah kenaikan kadar gula darah lebih lanjut. Insulin memasukkan gula ke dalam sel sehingga bisa menghasilkan energi atau disimpan sebagai cadangan energi. Pada orang yang menderita kencing manis, glukosa sulit masuk ke dalam sel karena sedikit atau tidak adanya zat insulin, atau tidak berfungsinya dalam tubuh, sehingga kadar glukosa dalam darah menjadi tinggi.
Jumlah penderita diabetes diperkirakan meningkat dari tahun ke tahun. Dari sejumlah penderita diabetes, hanya sebagian yang sadar bahwa dirinya menderita penyakit itu, dan hanya sedikit yang mau berobat teratur. Minimnya pengetahuan masyarakat akan penyakit diabetes menyebabkan banyak jumlah kasus yang tidak tertangani dengan baik secara medis.
Sebagian besar kasus diabetes adalah diabetes tipe 2 yang disebabkan faktor keturunan. Tetapi faktor keturunan saja tidak cukup untuk menyebabkan seseorang terkena diabetes karena risikonya hanya sebesar 5%. Ternyata diabetes tipe 2 lebih sering terjadi pada orang yang mengalami obesitas alias kegemukan akibat gaya hidup yang dijalaninya.
Jenis Diabetes Mellitus
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan terdapat tiga jenis diabetes mellitus, yaitu :
Jumlah penderita diabetes diperkirakan meningkat dari tahun ke tahun. Dari sejumlah penderita diabetes, hanya sebagian yang sadar bahwa dirinya menderita penyakit itu, dan hanya sedikit yang mau berobat teratur. Minimnya pengetahuan masyarakat akan penyakit diabetes menyebabkan banyak jumlah kasus yang tidak tertangani dengan baik secara medis.
Sebagian besar kasus diabetes adalah diabetes tipe 2 yang disebabkan faktor keturunan. Tetapi faktor keturunan saja tidak cukup untuk menyebabkan seseorang terkena diabetes karena risikonya hanya sebesar 5%. Ternyata diabetes tipe 2 lebih sering terjadi pada orang yang mengalami obesitas alias kegemukan akibat gaya hidup yang dijalaninya.
Jenis Diabetes Mellitus
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan terdapat tiga jenis diabetes mellitus, yaitu :
- Diabetes mellitus tipe 1 (diabetes yang tergantung kepada insulin, IDDM)
- Diabetes mellitus tipe 2 (diabetes yang tidak tergantung kepada insulin, NIDDM)
- Diabetes gestasional (terjadi selama kehamilan)
Pada diabetes mellitus tipe 1 atau diabetes yang bergantung pada insulin (insulin-dependent diabetes mellitus, IDDM), atau diabetes anak-anak terdapat kekurangan insulin pada tubuh karena pancreas hanya menghasilkan sedikit insulin atau sama sekali tidak menghasilkan insulin. 90% sel penghasil insulin (sel beta pankreas) mengalami kerusakan permanen sehingga penderita harus mendapatkan suntikan insulin secara teratur. Penyebab kerusakan terbanyak adalah kesalahan reaksi autoimunitas yang menghancurkan sel beta pankreas. Reaksi autoimunitas tersebut dapat dipicu oleh adanya infeksi pada tubuh.
Diabetes tipe 1 dijumpai pada 10-15% kasus diabetes dan umumnya diderita oleh anak-anak dan remaja. DM tipe 1 lebih cenderung diturunkan secara genetik dalam keluarga.
Pada diabetes mellitus tipe 2 atau diabetes yang tidak bergantung pada insulin (non-insulin-dependent diabetes mellitus, NIDDM) pankreas tetap menghasilkan insulin, kadang kadarnya lebih tinggi dari normal, tetapi tubuh membentuk kekebalan terhadap efeknya (adanya gangguan respon jaringan terhadap insulin).
Diabetes mellitus tipe 2 dijumpai sekitar 85% dari kasus diabetes dan merupakan bentuk diabetes yang tersering. Biasanya terjadi setelah usia 40 tahun. Faktor risiko untuk diabetes tipe 2 adalah obesitas (kegemukan) dimana sekitar 80-90% penderita mengalami obesitas. Oleh karena itu, DM tipe 2 seringkali dianggap sebagai DM yang didapat. Tetapi meskipun begitu, DM tipe II juga memiliki kecenderungan diturunkan secara genetik.
Seseorang berbakat kena diabetes mellitus jika : 1) kedua orang tua, atau salah satu saja menderita DM; 2) memiliki saudara kandung yang menderita DM; 3) salah satu anggota keluarga (nenek, kakek, bibi, paman, sepupu, keponakan) ada yang menderita DM; 4) pernah memiliki kadar gula darah 126-200 mg/dl; 5) mengidap penyakit hati yang berat; 6) sering mengkonsumsi obat-obatan golongan kortikosteroid, seperti penderita asma, eksim, encok, dsb.; 7) wanita dengan riwayat melahirkan bayi dengan bobot lahir lebih dari 4 kg.
Diabetes mellitus gestasional (gestasional diabetes mellitus, GDM) mirip dengan diabetes mellitus tipe 2 yang terjadi selama kehamilan dan dapat sembuh setelah melahirkan. GDM terjadi di sekitar 2–5% dari semua kehamilan. GDM mungkin dapat merusak kesehatan janin atau ibu.
Komplikasi DM
Jika dibiarkan, DM bisa menyebabkan banyak komplikasi di beberapa organ tubuh, seperti rambut rontok, telinga berdenging atau tuli, katarak pada usia dini, atau glaucoma (tekanan bola mata meninggi dan bisa berakhir dengan kebutaan).
Zat kompleks yang terdiri dari gula di dalam dinding pembuluh darah menyebabkan pembuluh darah menebal dan mengalami kebocoran. Akibat penebalan ini maka aliran darah akan berkurang, terutama yang menuju ke kulit dan saraf. Kerusakan pada pembuluh darah mata bisa menyebabkan gangguan penglihatan (bahkan kebutaan) akibat kerusakan pada retina mata (retinopathy diabeticum). Umumnya ini terjadi setelah 10-15 tahun menderita DM bila tidak diobati.
Komplikasi lainnya yang bisa terjadi adalah terjadinya serangan jantung koroner; kelainan fungsi ginjal (nephropathy) bisa menyebabkan gagal ginjal sehingga penderita harus menjalai cuci darah (hemodialisa); muncul kesemutan-nyeri-lemah pada lengan dan tungkai akibat kelainan fungsi syaraf (neuropathy); keadan melemahnya syaraf-syaraf; membusuknya jaringan akibat rusaknya pembuluh darah yang memasok makanan pada tungkai dan kaki (gangrene) sehingga sebagian tungkai harus diamputasi; serta serangan stroke. Dibandingkan dengan orang normal, penderita DM 2 kali kemungkinan komplikasi jantung koroner dan stroke; 5 kali kemungkinan terkena borok (ulkus) dan gangrene; 7 kali kemungkinan gagal ginjal; dan 25 kali kemungkinan menjadi buta.
Selain itu, gigi gampang goyah, gusi bengkak dan bernanah; mudah tertular TBC, rentan terkena penyakit liver; gangguan lambung, sembelit atau malah diare, tak bisa kencing, atau mengompol tak tertahan.
Penderita DM juga rentan terkena penyakit jamur kulit dan keputihan pada wanita. Sebagian kasus DM pada pria yang tak diobati menyebabkan impotensi. Impotensi yang masih baru masih bisa dipulihkan. Tetapi jika dibiarkan dan DM-nya memburuk, kerusakan syaraf kemaluan yang sudah terlalu lama tidak bisa disembuhkan lagi.
Tanda dan Gejala
Tiga gejala khas dari diabetes mellitus adalah “3P”, yaitu polyuria (banyak kencing), polydipsia (banyak minum) dan polyphagia (banyak makan). Gejala ini berhubungan dengan efek langsung dari kadar gula darah yang tinggi. Jika kadar gula darah sampai diatas 160-180 mg/dL (nilai ambang ginjal), maka glukosa akan sampai ke urine. Jika kadarnya lebih tinggi lagi, ginjal akan membuang air tambahan untuk mengencerkan sejumlah besar glukosa yang hilang. Karena ginjal menghasilkan air kemih dalam jumlah yang berlebihan, maka penderita sering berkemih dalam jumlah yang banyak (polyuria). Poliuria menyebabkan penderita merasakan haus yang berlebihan sehingga banyak minum (polydipsia). Sejumlah besar kalori hilang ke dalam urine, penderita mengalami penurunan berat badan. Untuk mengkompensasikan hal ini penderita seringkali merasakan lapar yang luar biasa sehingga banyak makan (polyphagia).
Karena kekurangan insulin yang berat, maka sebelum menjalani pengobatan penderita diabetes tipe 1 hampir selalu mengalami penurunan berat badan. Dalam sebulan berat badan penderita bisa turun hingga 5-10 kg. Pada sebagian besar penderita diabetes tipe 2 tidak mengalami penurunan berat badan.
Gejala lainnya adalah pandangan kabur, pusing, mual, lemah, lesu, dan berkurangnya ketahanan selama melakukan olah raga. Penderita diabetes yang kurang terkontrol lebih peka terhadap infeksi. Penderita sering merasakan gatal-gatal dan jika mempunyai luka, sukar sembuh.
Bahkan setelah mulai menjalani terapi insulin, penderita diabetes tipe 1 bisa mengalami ketoasidosis jika mereka melewatkan satu kali penyuntikan insulin atau mengalami stres akibat infeksi, kecelakaan atau penyakit yang serius.
Penderita diabetes tipe 2 bisa tidak menunjukkan gejala selama beberapa tahun. Jika kekurangan insulin semakin parah, maka timbullah gejala yang berupa sering kencing dan haus. Jarang terjadi ketoasidosis. Jika kadar gula darah sangat tinggi (sampai lebih dari 1.000 mg/dL, biasanya terjadi akibat stres-misalnya infeksi atau obat-obatan), maka penderita akan mengalami dehidrasi berat, yang bisa menyebabkan kebingungan mental, pusing, kejang dan suatu keadaan yang disebut koma hiperglikemik-hiperosmolar non-ketotik.
Diagnosis
Diagnosis diabetes mellitus ditetapkan berdasarkan :
Diabetes tipe 1 dijumpai pada 10-15% kasus diabetes dan umumnya diderita oleh anak-anak dan remaja. DM tipe 1 lebih cenderung diturunkan secara genetik dalam keluarga.
Pada diabetes mellitus tipe 2 atau diabetes yang tidak bergantung pada insulin (non-insulin-dependent diabetes mellitus, NIDDM) pankreas tetap menghasilkan insulin, kadang kadarnya lebih tinggi dari normal, tetapi tubuh membentuk kekebalan terhadap efeknya (adanya gangguan respon jaringan terhadap insulin).
Diabetes mellitus tipe 2 dijumpai sekitar 85% dari kasus diabetes dan merupakan bentuk diabetes yang tersering. Biasanya terjadi setelah usia 40 tahun. Faktor risiko untuk diabetes tipe 2 adalah obesitas (kegemukan) dimana sekitar 80-90% penderita mengalami obesitas. Oleh karena itu, DM tipe 2 seringkali dianggap sebagai DM yang didapat. Tetapi meskipun begitu, DM tipe II juga memiliki kecenderungan diturunkan secara genetik.
Seseorang berbakat kena diabetes mellitus jika : 1) kedua orang tua, atau salah satu saja menderita DM; 2) memiliki saudara kandung yang menderita DM; 3) salah satu anggota keluarga (nenek, kakek, bibi, paman, sepupu, keponakan) ada yang menderita DM; 4) pernah memiliki kadar gula darah 126-200 mg/dl; 5) mengidap penyakit hati yang berat; 6) sering mengkonsumsi obat-obatan golongan kortikosteroid, seperti penderita asma, eksim, encok, dsb.; 7) wanita dengan riwayat melahirkan bayi dengan bobot lahir lebih dari 4 kg.
Diabetes mellitus gestasional (gestasional diabetes mellitus, GDM) mirip dengan diabetes mellitus tipe 2 yang terjadi selama kehamilan dan dapat sembuh setelah melahirkan. GDM terjadi di sekitar 2–5% dari semua kehamilan. GDM mungkin dapat merusak kesehatan janin atau ibu.
Komplikasi DM
Jika dibiarkan, DM bisa menyebabkan banyak komplikasi di beberapa organ tubuh, seperti rambut rontok, telinga berdenging atau tuli, katarak pada usia dini, atau glaucoma (tekanan bola mata meninggi dan bisa berakhir dengan kebutaan).
Zat kompleks yang terdiri dari gula di dalam dinding pembuluh darah menyebabkan pembuluh darah menebal dan mengalami kebocoran. Akibat penebalan ini maka aliran darah akan berkurang, terutama yang menuju ke kulit dan saraf. Kerusakan pada pembuluh darah mata bisa menyebabkan gangguan penglihatan (bahkan kebutaan) akibat kerusakan pada retina mata (retinopathy diabeticum). Umumnya ini terjadi setelah 10-15 tahun menderita DM bila tidak diobati.
Komplikasi lainnya yang bisa terjadi adalah terjadinya serangan jantung koroner; kelainan fungsi ginjal (nephropathy) bisa menyebabkan gagal ginjal sehingga penderita harus menjalai cuci darah (hemodialisa); muncul kesemutan-nyeri-lemah pada lengan dan tungkai akibat kelainan fungsi syaraf (neuropathy); keadan melemahnya syaraf-syaraf; membusuknya jaringan akibat rusaknya pembuluh darah yang memasok makanan pada tungkai dan kaki (gangrene) sehingga sebagian tungkai harus diamputasi; serta serangan stroke. Dibandingkan dengan orang normal, penderita DM 2 kali kemungkinan komplikasi jantung koroner dan stroke; 5 kali kemungkinan terkena borok (ulkus) dan gangrene; 7 kali kemungkinan gagal ginjal; dan 25 kali kemungkinan menjadi buta.
Selain itu, gigi gampang goyah, gusi bengkak dan bernanah; mudah tertular TBC, rentan terkena penyakit liver; gangguan lambung, sembelit atau malah diare, tak bisa kencing, atau mengompol tak tertahan.
Penderita DM juga rentan terkena penyakit jamur kulit dan keputihan pada wanita. Sebagian kasus DM pada pria yang tak diobati menyebabkan impotensi. Impotensi yang masih baru masih bisa dipulihkan. Tetapi jika dibiarkan dan DM-nya memburuk, kerusakan syaraf kemaluan yang sudah terlalu lama tidak bisa disembuhkan lagi.
Tanda dan Gejala
Tiga gejala khas dari diabetes mellitus adalah “3P”, yaitu polyuria (banyak kencing), polydipsia (banyak minum) dan polyphagia (banyak makan). Gejala ini berhubungan dengan efek langsung dari kadar gula darah yang tinggi. Jika kadar gula darah sampai diatas 160-180 mg/dL (nilai ambang ginjal), maka glukosa akan sampai ke urine. Jika kadarnya lebih tinggi lagi, ginjal akan membuang air tambahan untuk mengencerkan sejumlah besar glukosa yang hilang. Karena ginjal menghasilkan air kemih dalam jumlah yang berlebihan, maka penderita sering berkemih dalam jumlah yang banyak (polyuria). Poliuria menyebabkan penderita merasakan haus yang berlebihan sehingga banyak minum (polydipsia). Sejumlah besar kalori hilang ke dalam urine, penderita mengalami penurunan berat badan. Untuk mengkompensasikan hal ini penderita seringkali merasakan lapar yang luar biasa sehingga banyak makan (polyphagia).
Karena kekurangan insulin yang berat, maka sebelum menjalani pengobatan penderita diabetes tipe 1 hampir selalu mengalami penurunan berat badan. Dalam sebulan berat badan penderita bisa turun hingga 5-10 kg. Pada sebagian besar penderita diabetes tipe 2 tidak mengalami penurunan berat badan.
Gejala lainnya adalah pandangan kabur, pusing, mual, lemah, lesu, dan berkurangnya ketahanan selama melakukan olah raga. Penderita diabetes yang kurang terkontrol lebih peka terhadap infeksi. Penderita sering merasakan gatal-gatal dan jika mempunyai luka, sukar sembuh.
Pada penderita diabetes tipe 1, gejalanya timbul secara tiba-tiba dan bisa berkembang dengan cepat ke dalam suatu keadaan yang disebut dengan ketoasidosis diabetikum. Kadar gula di dalam darah adalah tinggi tetapi karena sebagian besar sel tidak dapat menggunakan gula tanpa insulin, maka sel-sel ini mengambil energi dari sumber yang lain. Sel lemak dipecah dan menghasilkan keton, yang merupakan senyawa kimia beracun yang bisa menyebabkan darah menjadi asam (ketoasidosis). Gejala awal dari ketoasidosis diabetikum adalah rasa haus dan sering kencing, mual, muntah, lelah dan nyeri perut (terutama pada anak-anak). Pernafasan menjadi dalam dan cepat karena tubuh berusaha untuk memperbaiki keasaman darah. Bau nafas penderita tercium seperti bau aseton. Tanpa pengobatan, ketoasidosis diabetikum bisa berkembang menjadi koma, kadang dalam waktu hanya beberapa jam.
Bahkan setelah mulai menjalani terapi insulin, penderita diabetes tipe 1 bisa mengalami ketoasidosis jika mereka melewatkan satu kali penyuntikan insulin atau mengalami stres akibat infeksi, kecelakaan atau penyakit yang serius.
Penderita diabetes tipe 2 bisa tidak menunjukkan gejala selama beberapa tahun. Jika kekurangan insulin semakin parah, maka timbullah gejala yang berupa sering kencing dan haus. Jarang terjadi ketoasidosis. Jika kadar gula darah sangat tinggi (sampai lebih dari 1.000 mg/dL, biasanya terjadi akibat stres-misalnya infeksi atau obat-obatan), maka penderita akan mengalami dehidrasi berat, yang bisa menyebabkan kebingungan mental, pusing, kejang dan suatu keadaan yang disebut koma hiperglikemik-hiperosmolar non-ketotik.
Diagnosis
Diagnosis diabetes mellitus ditetapkan berdasarkan :
- Gejala diabetes (lihat tanda dan gejala) ditambah kadar glukosa plasma atau serum sewaktu (kapan saja, tanpa mempertimbangkan makan terakhir) sebesar ≥ 200 mg/dl (normalnya adalah kurang dari 140 mg/dl)
- Glukosa plasma/serum puasa (tidak ada asupan kalori selama paling sedikit 8 jam) ≥ 126 mg/dl (normalnya adalah kurang dari 110 mg/dl)
- Glukosa plasma/serum 2 jam setelah makan ≥ 200 mg/dl (normalnya adalah kurang dari 140 mg/dl)
Hasil pemeriksaan urin tidak selalu tepat untuk mendiagnosis diabetes mellitus. Hasil pemeriksaan glukosa urin (glukosuria) baru positif apabila kadar gula darah sudah melampaui nilai ambang ginjal menahan gula. Dan, itu baru terjadi apabila kadar gula darah sudah mencapai 180 mg/dl (nilai ambang ginjal).
Pengobatan
Tujuan utama dari pengobatan DM adalah untuk mempertahankan kadar gula darah dalam kisaran normal. Namun, kadar gula darah yang benar-benar normal sulit untuk dipertahankan. Semakin mendekati kisaran normal, kemungkinan terjadinya komplikasi sementara maupun jangka panjang bisa dikurangi. Oleh sebab itu diperlukan pemantauan kadar gula darah secara teratur.
DM tipe 1 hanya dapat diobati dengan suntikan insulin, dengan pengawasan yang teliti terhadap kadar gula darah. Kadar gula darah rata-rata untuk pasien diabetes tipe 1 harus sedekat mungkin ke angka normal (80-120 mg/dl atau 4-6 mmol/l). Beberapa dokter menyarankan sampai ke 140-150 mg/dl atau 7-7.5 mmol/l. Tanpa insulin, ketosis dan ketoasidosis bisa menyebabkan koma bahkan bisa mengakibatkan kematian. Penekanan juga diberikan pada penyesuaian gaya hidup (diet dan olahraga).
DM tipe 2 biasanya, awalnya, diobati dengan cara meningkatkan aktivitas fisik (gerak badan/olah raga), diet (umumnya pengurangan porsi makan), dan lewat pengurangan berat badan. Langkah berikutnya, diobati dengan minum obat antidiabetes. Dosis obat diatur sesuai dengan tinggi-rendahnya kadar gula darah yang berfluktuasi dari waktu ke waktu. Takaran ideal obat dicapai jika dengan dosis serendah mungkin, disertai dengan diet yang sesuai, dan tetap beraktifitas fisik normal ditambah olah raga, gula darah biasanya berhasil terkontrol dalam batas normal.
Meskipun suntikan insulin hanya diberikan untuk DM tipe 1, untuk kasus DM tipe 2 sekarang juga diberikan insulin yang digabung dengan obat minum (oral).
Penderita DM harus memberikan perhatian khusus kepada infeksi kaki sehingga kukunya harus dipotong secara teratur. Penting untuk memeriksakan matanya agar bisa diketahui jika terjadi gangguan pada pembuluh darah di mata.
Pengendalian DM
DM harus dikendalikan untuk mencegah komplikasi yang merugikan. Kadar gula darah harus selalu dikontrol dan dipertahankan dalam kisaran normal. Penderita diabetes mellitus harus memeriksakan kadar gula darahnya secara teratur. Perlu rutin diperiksa juga lemak darah lengkap, yaitu kolesterol total, kolesterol-LDL, kolesterol-HDL, dan trigliserid untuk mengantisipasi risiko penyakit jantung dan pembuluh darah.
Pemeriksaan glukosa urin juga dapat dilakukan setiap beberapa hari. Glukosa urin positif berarti gula darah sangat tinggi. Glukosa urin negative belum tentu gula darahnya normal, masih ada kemungkinan gula darah di atas normal.
Pemeriksaan HbA1c digunakan untuk memantau fluktuasi kadar gula darah selama kurun waktu tertentu dan untuk melihat sudah seberapa kerusakan kelenjar pancreas yang mencerminkan potensi memproduksi insulin. Dengan pemeriksaan ini dapat dinilai perjalanan penyakit diabetes, efektifitas terapi, dan menilai kepatuhan penderita terhadap terapi diabetes.
Berat badan harus diamati jangan sampai lebih dari berat badan ideal, dan tekanan darah juga dijaga dalam batas normal. Membiasakan diri untuk hidup sehat, olah raga secara teratur, serta mengatur diet makanan. Batasi konsumsi makanan yang manis-manis atau mengandung karbohidrat yang tinggi. Semua jenis zat pati atau karbohidrat kompleks, seperti ubi, singkong, nasi, roti, roti, ketan, sagu, dan mie perlu dibatasi. Termasuk semua buah yang tergolong manis, seperti sawo, mangga, rambutan, nangka, cempedak, durian, anggur, termasuk juga madu.
Pilih buah sebaiknya dari jenis yang kurang manis, seperti semangka, apel, tomat, kedondong, jeruk, dsb. Perbanyak sayur-mayur dan jenis makanan berserat.
Batasi juga lemak, seperti telor, keju, susu, dan minyak goreng, serta semua sumber asam urat seperti jeroan, alkohol, sardine, unggas, kaldu, jenis sayuran tertentu, kacang-kacangan, dan emping. Tidak merokok dan batasi garam dapur agar tekanan darah tidak tinggi, serta kenurkan stress fisik maupun batin.
Selama gula darah masih tinggi, makanan harian sebaiknya ditakar sesuai dengan jenis diet DM yang dianjurkan. Konsultasikan hal ini dengan ahli gizi Anda. Jika kadar gula sudah terkontrol, boleh makan dengan menu biasanya, tetapi tetap dengan pantang dan porsi makan yang tidak berlebihan, membatasi karbohidrat, serta makan tepat waktu.
Perawatan tungkai dan kaki perlu mendapatkan perhatian. Setiap kali ada luka di kaki perlu segera dirawat agar tidak berkembang menjadi infeksi dan borok atau gangrene. Jaga agar tungkai dan kaki tidak terkena trauma mekanis, terantuk batu, menginjak beling atau duri, lecet karena sepatu terlalu sempit, dsb. Biasakan selalu beralas kaki. Periksa juga kalau ada luka, sebab mungkin karena syaraf perasa sudah tumpul akibat DM yang sudah lama, luka tersebut kadang-kadang tidak terasa. Termasuk bila terkena jamur, sebab orang DM mudah terkena infeksi jamur.
Penggunaan insulin harus sesuai takaran (konsultasikan hal ini dengan dokter). Suntikan insulin yang kebanyakan dapat menimbulkan hipoglikemia (kadar gula darah yang rendah). Hipoglikemia juga dapat terjadi jika penderita kurang makan atau tidak makan sesuai jadwal, atau melakukan aktifitas fisik atau olah raga yang berat tanpa makan. Hipoglikemia harus segera diatasi karena dalam beberapa menit bisa menjadi berat dan dapat menyebabkan penderita koma.
Untuk mengantisipasi hipoglikemia, penderita harus selalu membawa permen, gula atau tablet glukosa. Dapat juga minum segelas susu, air gula, jus buah, kue, buah-buahan atau makanan manis lainnya.
Orang yang berbakat DM harus menjaga berat badan normal, mengatur pola makan dan pola hidup yang sehat, dan melakukan cek kesehatan secara teratur.
Pengobatan
Tujuan utama dari pengobatan DM adalah untuk mempertahankan kadar gula darah dalam kisaran normal. Namun, kadar gula darah yang benar-benar normal sulit untuk dipertahankan. Semakin mendekati kisaran normal, kemungkinan terjadinya komplikasi sementara maupun jangka panjang bisa dikurangi. Oleh sebab itu diperlukan pemantauan kadar gula darah secara teratur.
DM tipe 1 hanya dapat diobati dengan suntikan insulin, dengan pengawasan yang teliti terhadap kadar gula darah. Kadar gula darah rata-rata untuk pasien diabetes tipe 1 harus sedekat mungkin ke angka normal (80-120 mg/dl atau 4-6 mmol/l). Beberapa dokter menyarankan sampai ke 140-150 mg/dl atau 7-7.5 mmol/l. Tanpa insulin, ketosis dan ketoasidosis bisa menyebabkan koma bahkan bisa mengakibatkan kematian. Penekanan juga diberikan pada penyesuaian gaya hidup (diet dan olahraga).
DM tipe 2 biasanya, awalnya, diobati dengan cara meningkatkan aktivitas fisik (gerak badan/olah raga), diet (umumnya pengurangan porsi makan), dan lewat pengurangan berat badan. Langkah berikutnya, diobati dengan minum obat antidiabetes. Dosis obat diatur sesuai dengan tinggi-rendahnya kadar gula darah yang berfluktuasi dari waktu ke waktu. Takaran ideal obat dicapai jika dengan dosis serendah mungkin, disertai dengan diet yang sesuai, dan tetap beraktifitas fisik normal ditambah olah raga, gula darah biasanya berhasil terkontrol dalam batas normal.
Meskipun suntikan insulin hanya diberikan untuk DM tipe 1, untuk kasus DM tipe 2 sekarang juga diberikan insulin yang digabung dengan obat minum (oral).
Penderita DM harus memberikan perhatian khusus kepada infeksi kaki sehingga kukunya harus dipotong secara teratur. Penting untuk memeriksakan matanya agar bisa diketahui jika terjadi gangguan pada pembuluh darah di mata.
Pengendalian DM
DM harus dikendalikan untuk mencegah komplikasi yang merugikan. Kadar gula darah harus selalu dikontrol dan dipertahankan dalam kisaran normal. Penderita diabetes mellitus harus memeriksakan kadar gula darahnya secara teratur. Perlu rutin diperiksa juga lemak darah lengkap, yaitu kolesterol total, kolesterol-LDL, kolesterol-HDL, dan trigliserid untuk mengantisipasi risiko penyakit jantung dan pembuluh darah.
Pemeriksaan glukosa urin juga dapat dilakukan setiap beberapa hari. Glukosa urin positif berarti gula darah sangat tinggi. Glukosa urin negative belum tentu gula darahnya normal, masih ada kemungkinan gula darah di atas normal.
Pemeriksaan HbA1c digunakan untuk memantau fluktuasi kadar gula darah selama kurun waktu tertentu dan untuk melihat sudah seberapa kerusakan kelenjar pancreas yang mencerminkan potensi memproduksi insulin. Dengan pemeriksaan ini dapat dinilai perjalanan penyakit diabetes, efektifitas terapi, dan menilai kepatuhan penderita terhadap terapi diabetes.
Berat badan harus diamati jangan sampai lebih dari berat badan ideal, dan tekanan darah juga dijaga dalam batas normal. Membiasakan diri untuk hidup sehat, olah raga secara teratur, serta mengatur diet makanan. Batasi konsumsi makanan yang manis-manis atau mengandung karbohidrat yang tinggi. Semua jenis zat pati atau karbohidrat kompleks, seperti ubi, singkong, nasi, roti, roti, ketan, sagu, dan mie perlu dibatasi. Termasuk semua buah yang tergolong manis, seperti sawo, mangga, rambutan, nangka, cempedak, durian, anggur, termasuk juga madu.
Pilih buah sebaiknya dari jenis yang kurang manis, seperti semangka, apel, tomat, kedondong, jeruk, dsb. Perbanyak sayur-mayur dan jenis makanan berserat.
Batasi juga lemak, seperti telor, keju, susu, dan minyak goreng, serta semua sumber asam urat seperti jeroan, alkohol, sardine, unggas, kaldu, jenis sayuran tertentu, kacang-kacangan, dan emping. Tidak merokok dan batasi garam dapur agar tekanan darah tidak tinggi, serta kenurkan stress fisik maupun batin.
Selama gula darah masih tinggi, makanan harian sebaiknya ditakar sesuai dengan jenis diet DM yang dianjurkan. Konsultasikan hal ini dengan ahli gizi Anda. Jika kadar gula sudah terkontrol, boleh makan dengan menu biasanya, tetapi tetap dengan pantang dan porsi makan yang tidak berlebihan, membatasi karbohidrat, serta makan tepat waktu.
Perawatan tungkai dan kaki perlu mendapatkan perhatian. Setiap kali ada luka di kaki perlu segera dirawat agar tidak berkembang menjadi infeksi dan borok atau gangrene. Jaga agar tungkai dan kaki tidak terkena trauma mekanis, terantuk batu, menginjak beling atau duri, lecet karena sepatu terlalu sempit, dsb. Biasakan selalu beralas kaki. Periksa juga kalau ada luka, sebab mungkin karena syaraf perasa sudah tumpul akibat DM yang sudah lama, luka tersebut kadang-kadang tidak terasa. Termasuk bila terkena jamur, sebab orang DM mudah terkena infeksi jamur.
Penggunaan insulin harus sesuai takaran (konsultasikan hal ini dengan dokter). Suntikan insulin yang kebanyakan dapat menimbulkan hipoglikemia (kadar gula darah yang rendah). Hipoglikemia juga dapat terjadi jika penderita kurang makan atau tidak makan sesuai jadwal, atau melakukan aktifitas fisik atau olah raga yang berat tanpa makan. Hipoglikemia harus segera diatasi karena dalam beberapa menit bisa menjadi berat dan dapat menyebabkan penderita koma.
Untuk mengantisipasi hipoglikemia, penderita harus selalu membawa permen, gula atau tablet glukosa. Dapat juga minum segelas susu, air gula, jus buah, kue, buah-buahan atau makanan manis lainnya.
Orang yang berbakat DM harus menjaga berat badan normal, mengatur pola makan dan pola hidup yang sehat, dan melakukan cek kesehatan secara teratur.




5 comments:
wah...mas artikelnya baguuusssss banget,,numpang baca yaahhh
Terima kasih atas informasinya. artikelnya sangat bermanfaat sekali
biker jadoel
Sangat Bermanfaat
Terima kasih infonya sangat bermanfaat
lensasehat.com | Info & Peduli Kesehatan
Post a Comment