Di saat jaman semakin sulit, segala hal menjadi semakin mahal, maka kita mesti pintar-pintar mensikapi berbagai hal. Demikian pula soal berobat. Harga-harga obat yang semakin mahal kadang membuat kita berpikir ribuan kali untuk dapat menebus obat. Pilihan untuk untuk mengobati sendiri dengan membeli obat di warung bukan tanpa resiko. Salah-salah, karena kurangnya pengetahuan kita akibatnya justru berbahaya dan harus dirawat di rumah sakit.
Memang, ada kondisi dimana kita dapat mengobati sendiri dengan obat warung.
Tetapi ada cara cerdas ketika harus berobat ke dokter serta bagaimana bersikap kritis dan rasional dalam penggunaan obat.
1. Tidak setiap kali sakit harus ke dokter
Kebanyakan penyakit harian, seperti batuk pilek, mulas, pusing atau mual akan
sembuh sendiri tanpa diobati. Ini karena tubuh punya mekanisme alamiah untuk
menangkal penyakit. Penggunaan yang terlalu cepat dan berlebihan justru dapat
mengganggu mekanisme alamiah tubuh.
Obat dari warung dapat digunakan jika penyakit-penyakit tersebut sampai
mengganggu aktifitas kita, misalnya susah tidur, nggak bisa makan, pusing sampai
susah bangun. Tetapi jika keluhan tidak hilang sampai beberapa hari atau
bertambah berat, maka harus ke dokter untuk mendapatkan penanganan medis.
Mengobati sendiri penyakit tidak selalu aman dan beresiko membiarkan penyakit
bertambah parah. Oleh karena itu pengetahuan dan wawasan di bidang medis perlu
ditambah terus agar pemilihan mengobati sendiri menjadi upaya yang efisien.
2. Tidak semua keluhan sakit memerlukan obat
Bagaimanapun obat adalah racun jika digunakan salah alamat dan berlebihan. Betapa
ringannya dosis obat pasti ada efek buruknya bagi tubuh. Mereka yang bergerak di
bidang pengobatan alternatif merasa prihatin atas penggunaan bahan kimiawi dalam
pengobatan. Pengobatan herbal, akupuntur, prana, akupresur bertujuan menjauhkan
tubuh dari efek kimiawi obat. Jika masih bisa sembuh tanpa obat, sebaiknya tidak
memilih obat.
3. Tidak semua obat menyembuhkan penyakit
Rata-rata obat memberikan reaksi setelah beberapa kali diminum. Penggunaan obat
yang sama dalam jangka waktu yang lama ternyata tidak memperbaiki penyakit
mungkin obatnya tidak tepat. Pengobatan yang tidak memberi manfaat justru dapat
menimbulkan akibat buruk bagi pasien. Sebaiknya dihentikan.
Disamping memberi manfaat, banyak obat yang memberi efek buruk bagi pasien. Obat
kanker misalnya. Obat ini manfaatnya memperpanjang hidup tetapi dirasa
menyengsarakan pasien sebab dapat menimbulkan kerontokan rambut, kulit jelek, sel
darah rusak.
Obat yang tidak memberi manfaat mungkin karena dokter salah mendiagnosis, salah
memberi obat atau obatnya memang palsu. Tanyakan kepada dokter jika tidak ada
reaksi sama sekali. Melanjutkan obat tanpa khasiat, selain hanya menguras kocek
juga harus menanggung efek buruk obat.
4. Tidak semua obat dalam resep harus diterima
Dokter biasanya meresepkan dua jenis obat. Pertama, obat untuk meringankan
keluhan dan penderitaan pasien. Obat ini sebenarnya perlu atau tidak perlu. Jika
dokter memperkirakan keluhan tidak mengancam jiwa dan pasien tahan terhadap
keluhan demam, nyeri, batuk, mual atau muntah, maka jenis obat ini tidak perlu.
Kedua, obat pokok, yaitu obat yang membasmi atau meniadakan sumber penyakitnya.
Kalau infeksi, ya antibiotiknya. Kalau hipertensi, ya penyebab hipertensinya.
Soal pereda demam, nyeri kepala, pusing, boleh tidak diberikan.
Orientasi dokter biasanya memihak pada permintaan pasien. Pasien mengira, keluhan
yang mereda identik dengan kesembuhan. Karena itu pasien (dan sering juga dokter)
lebih mementingkan obat yang meredakan gejala atau keluhannya, bukan yang
meniadakan penyebabnya. Dengan atau tanpa obat pereda keluhan sebenarnya asal
obatnya tepat, penyakitnya akan sembuh juga.
5. Mutu obat tidak ditentukan oleh harganya
Bukan sebab harganya tinggi maka obat lebih bermutu. Obat generic yang meniru
obat aslinya, jika dibuat dengan standar pembuatan obat yang baik (CPOB) pasti
sama manjurnya.
Sebenarnya kesembuhan turut ditentukan dengan sugesti pasien sendiri. Ada
anggapan bahwa obat yang mahal tentu akan lebih tokcer disbanding obat yang
harganya lebih murah. Fenomena ini banyak menghantui masyarakat kota. Di lain
pihak dokter tidak merasa dianggap bonafit jika tidak meresepkan obat yang mahal.
6. Ada obat bisa menimbulkan penyakit baru
Orang sekarang doyan meminum berbagai macam obat. Seolah-olah ada kebanggan
meminum obat seperti ini.
Semakin berderet resep yang dibuat dokter mungkin bisa mencerminkan keragu-raguan
dokter . Tapi itu juga dianggap menenteramkan hati pasien, yang dianggap bahwa
dokter mempunyai efek menyembuhkan juga.
Pasien yang perutnya dijejali dengan berbagai macam obat dapat merugikan pasien.
Hal ini tidak rasional dan berakibat timbulnya penyakit baru bagi pasien.
7. Pasien memiliki hak untuk bertanya
Selama ini pasien tidak memanfaatkan haknya untuk bertanya. Jangankan bertanya
tentang obat apa yang diberikan, tentang apa penyakitnya pun pasien jarang pernah
tahu. Pasien cenderung menerima apa saja yang dikatakan dan diberikan oleh dokter.
Di lain pihak, banyak dokter di Negara berkembang kurang cukup waktu menjawab
pertanyaan pasien. Dokter berpikir, yang penting sembuh, pasien tidak perlu
banyak bertanya.
Pasien yang banyak bertanya akan menguntungkan dirinya dalam banyak hal. Begitu
pula dalam hal resep yang diterima. Mestinya pasien menanyakan jenis-jenis obat
yang diterima. Apa gunanya dan apa efek samping atau bahayanya. Misalnya obat-
obat yang hanya meredakan gejala atau keluhan, apa bisa dicoret atas kesepakatan
dengan dokter.
8. Apotek tidak berhak menukar obat yang diresepkan dokter
Seringkali terjadi, apotek menukar obat yang tidak sesuai dengan yang ditulis
oleh dokter. Motifnya bermacam-macam. Mungkin obat yang diminta dokter memang
tidak ada. Agar pasien tidak pergi ke apotek lain maka apotek menukarnya dengan
obat yang sama dari pabrik lain.
Mungkin juga karena kenakalan apotek. Misalnya menukar dengan obat yang walaupun
sama tetapi harganya lebih mahal atau yang memberi untung lebih banyak bagi
apotek. Ini berarti merugikan kocek pasien, padahal khasiat kesembuhannya tidak
berbeda.
9. Tidak semua obat harus dihabiskan
Pasien sering bingung apakah obat yang diberikan dokter perlu dihabiskan atau
tidak. Mungkin ini juga akibat komunikasi yang buntu antara pasien dengan dokter.
Pasien bisa dirugikan karena memakai obat yang salah. Obat jenis simptomatik, itu
untuk meredakan gejala dan keluhan, tentu tidak perlu dihabiskan. Hanya diminum
kalau gejala atau keluhan masih ada atau timbul lagi.
Obat yang masih sisa sebaiknya disimpan dengan baik. Jika tahu indikasinya, obat
yang disimpan baik dapat dipakai kembali saat mengalami keluhan yang sama.
10. Baca aturan pakai obat
Penting untuk membaca aturan pakai obat. Orang malas membaca aturan pakai obat
yang tertera pada kemasan sehingga seringkali obat diminum secara berlebihan. ]
Orang sering berpikir akan cepat sembuh dengan meminum obat dalam jumlah yang
lebih. Ini sangat membahayakan. Ingat bahwa obat itu racun jika digunakan secara
salah dan berlebihan. Gunakan obat sesuai aturan pakainya atau sesuai petunjuk
dokter.
11.Banyak upaya pencegahan bisa dilakukan
Pepatah bilang, mencegah lebih baik daripada mengobati. Bagaimana agar tidak
gampang sakit?
Pertama, kondisi tubuh jangan sampai diperlemah karena stress, kurang doyan
makan, bekerja terlalu berat karena harus mencari tambahan kiri-kanan. Semua itu
dapat memperburuk pertahanan tubuh. Jika pertahan tubuh menurun, penyakit mudah
menyerang.
Kedua, tetaplah hidup teratur. Jika musim penghujan, buat tubuh menjadi lebih
hangat. Makanlah makanan yang hangat seperti soto, sop dan makanan yang
berprotein tinggi. Hindari makan menu dan jajanan yang dingin, dihidangkan secara
instan, dimakan mentah.
Jaga kebersihan badan, tempat tinggal dan makanan yang kita makanan.
Ketika tubuh terasa tidak enak, jangan paksakan untuk beraktifitas yang berat.
Makan yang lebih banyak dengan makanan yang mengandung protein tinggi (daging,
ikan, susu, telor). Istirahat yang cukup. Jika merasa lelah dan mengantuk,
bawalah tidur dan jangan melakukan aktifitas apapun sekalipun hanya menonton TV
atau membaca.
Semua ancaman di sekitar kita tidak mungkin kita redam. Yang perlu kita lakukan
adalah menjaga agar tubuh lebih kuat dengan makan makanan bergizi, cukup
istirahat dan berolah raga. Jika tubuh terasa loyo, mungkin diperlukan asupan
vitamin C, E dan mineral lebih banyak, selain buah dan sayuran.




0 comments:
Post a Comment