Bahaya Salinan Resep

Pernahkah anda diberi kopi resep obat ketika membeli obat di apotek?
Kopi resep adalah salinan resep obat dari dokter yang dibuat oleh apotek atau apoteker yang berisi keterangan obat, seperti :

  • Obat sudah diserahkan, diberi tanda det atau detur
  • Obat diulang beberapa kali, diberi tanda nde, iter
  • Obat belum diserahkan, diberi tanda ndet atau ne detur
  • Obat telah diserahkan sebagian, diberi tanda det iter
Disamping itu, kopi resep juga memuat nomor resep, nama dan alamat apotek, nama apoteker, nomor surat ijin kerja (SIK) dan surat ijin apotek (SIA), tanda tangan atau paraf apoteker serta stempel apotek.

Mengapa kopi resep dibuat? Alasan-alasannya adalah :

  • Tidak seluruh obat yang diresepkan oleh dokter dimiliki oleh apotek yang bersangkutan, misalnya karena kehabisan stok.
  • Dokternya menghendaki obatnya boleh diulang (iter=iteratur)
  • Mungkin pasien belum mempunyai uang atau obatnya baru diambil sebagian dan apotek memberikan kopi resep untuk mengambil sisanya di lain waktu.

Banyak orang yang beranggapan bahwa kopi resep bisa digunakan berulang-ulang atau terus-menerus. Anggapan ini berdasarkan beberapa alasan, seperti :
  • Tempat tinggal yang jauh dari dokter. Pasien menganggap kalau kontrol lagi ke dokter, obat yang diresepkan sama dengan obat sebelumnya.
  • Alasan biaya; jika pergi ke dokter lagi hanya akan menambah biaya
  • Obat sudah dirasakan cocok dan tanpa efek samping
  • Pengobatan jangka panjang, misalnya pada penyakit diabetes mellitus
  • Pasien kenal baik dengan petugas apotek
  • Obat sudah menyebabkan ketergantungan pada pasien
Pengulangan resep tidak bisa dilakukan sembarangan karena ada aturannya.
  • Pertama, kopi resep yang mengandung obat bebas atau bebas terbatas dapat diulang dengan ketentuan penderita memperoleh informasi yang jelas, baik tertulis (dalam kemasan asli yang dilengkapi dengan brosur) maupun secara lisan dari apoteker.
  • Kedua, kopi resep yang telah diberikan seluruh obatnya dapat berlaku lagi bila kopi resep tersebut telah diketahui dan disetujui kembali oleh dokter yang bersangkutan. Akan tetapi, hal ini sekarang jarang terjadi.
  • Ketiga, untuk resep yang mengandung narkotika tidak boleh ada tanda iter. Obat jenis ini selalu memerlukan resep baru kecuali bila baru diambil sebagian.
Bagaimanapun, selain bermanfaat, pengulangan resep juga memiliki sisi bahaya.
  • Sering mengulang kopi resep yang mengandung kortikosteroid (misalnya deksametason, prednisone) dalam jangka waktu lama akan menimbulkan full moon face. Wajah menjadi bengkak, bulat seperti bulan karena edema akibat retensi natrium. Kortikosteroid deksametason memang sering disalahgunakan untuk menambah nafsu makan. Padahal, obat ini sebenarnya untuk penyakit alergi, gatal-gatal kulit, asma, dsb. Gemuknya badan bukan karena deposit protein, melainkan air yang timbul dari edema. Dampak lain adalah timbulnya penyakit maag karena sekresi asam lambung meningkat dan timbulnya luka di lambung, keropos tulang, serta hiperglikemia yang mirip dengan diabetes mellitus.
  • Pengulangan resep yang mengandung antibiotik tetrasiklin secara terus-menerus dapat menimbulkan kerusakan gigi pada anak-anak (gigis), bercak-bercak hitam dan nefrotoksik.
  • Kopi resep dipinjamkan kepada orang lain. Setelah dikonsumsi, katahuan bahwa orang tersebut alergi terhadap obat itu.
  • Kopi resep anak kecil yang digunakan untuk kakaknya tentu kurang menyembuhkan, Sebaliknya, bila kopi resep si kakak digunakan untuk adiknya, bisa terjadi keracunan akibat kelebihan dosis.
  • Mengulang kopi resep lama karena mengira cocok dengan keluhan pasien, padahal ternyata penyakitnya berbeda.
Nah, sebaiknya kita bijak dalam menyikapi kopi resep. Konsultasikan dulu dengan dokter atau apoteker supaya tidak merugikan diri kita.


www.ihsan.co.nr

Baca Juga Yang Ini



0 comments:

Post a Comment