
Suatu saat saya melihat teman saya yang seorang perawat berjalan dengan terburu-buru. Wajahnya yang memerah tertunduk lesu dan tak bayak omong. Bahkan saat berpapasan dengan saya, dia hanya mengernyitkan dahi tanda sapaan kepada saya. Ini berbeda sekali ketika pagi hari ketemu saya di tempat parkir, ceria sekali. Mengherankan sekali.
Beberapa saat kemudian saya mendatangi poliklinik, mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Informasi yang saya peroleh dari seorang teman perawat yang lain membuat saya tersadar bahwa ternyata tidak semua yang kita duga benar adanya.
Pada hari itu ada seorang pasien laki-laki tua yang periksa di poliklinik peyakit dalam di rumah sakit tempat saya bekerja. Seperti halnya pasien-pasien yang lain, Pak Tua itu dilayani sebagaimana biasa. Mulai dari mendaftar, menyiapkan status rekam medis sampai dengan pemeriksaan.
Setelah gilirannya tiba, teman perawat tadi memanggil Pak Tua dan memintanya masuk ke ruang pemeriksaan yang telah ditentukan. Sebelum dokter memeriksa, perawat itu memeriksa tekanan darah, megukur tinggi badan dan menimbang berat badan Pak Tua. Hasil pemeriksaan dicatat dalam status rekam medis. Selajutnya ia mempersilahkan Pak Tua menuju ke ruang dokter.
Beberapa saat kemudian dokter jaga memanggil perawat itu. "Mbak. Bapak ini harus mondok. Tolong dicarikan ruangan ya", kata dokter.
"Ya, Dok" kata sang perawat sambil menerima status rekam medis yang disodorkan dokter kepadanya.
"Pak. Anda mau ruangan kelas berapa?" tanya perawat kepada Pak Tua.
"Ruang utama VIP, Bu", jawab Pak Tua kalem.
"Ah, bapak ini mbok ya jangan bercanda. Biayanya mahal lho, Pak. Apa Bapak nanti bisa bayar?" sahut perawat sambil nyengir, mengejek.
"Insyaallah saya akan usahakan, Bu", jawab Pak Tua.
"Begini saja, Pak. Nanti keluarga Bapak diminta megurus surat keterangan tidak mampu, biar nanti bisa gratis", kata perawat mencoba memberi saran.
Rupanya si dokter yang sejak tadi hanya menjadi penonton dan pedengar tak mau diam saja. Dia mengedipkan matanya, meminta sang perawat mendekat ke tempat duduknya. Lalu dengan berbisik dokter itu mengatakan sesuatu kepada sang perawat.
Seketika perawat itu merah wajahnya. "Mm...maaf, Pak. Segera saya urus masalah administrasiya", kata perawat kepada Pak Tua. Ia lalu bergegas menuju ruang administrasi, bercakap-cakap sebentar dengan pegawai di ruangan tersebut, menulis sesuatu, mengemasi kertas-kertas dan memasukkannya dalam map yang ia bawa. Kemudian ia keluar menuju tempat di mana Pak Tua berada. "Mari saya antar ke Paviliun VIP, Pak", kata si perawat sambil mempersilahkan Pak Tua duduk di atas kursi roda.
O, ternyata Pak Tua tadi adalah seorang pengusaha keramik sukses. Penampilannya sangat bersahaja, megenakan kaos oblong dan celana pendek yang sudah usang, dan hanya memakai sandal jepit yang juga sudah usang. Kulitnya coklat sawo matang seperti kebanyakan orang. Jika anda bertemu dengannya, pasti juga akan mengira kalau ia hanyalah orang biasa saja, orang kampung yang hidupnya serba pas-pasan. Tak ada yang mengira jika sebenarnya ia adalah seorang pengusaha yang kaya-raya. Jangankan membayar biaya perawatan dan pengobatan, membeli rumah sakitpun ia mampu.
Seringkali kita menilai seseorang hanya dari penampilannya. Kita akan langsung menilai seseorang sukses, kaya hanya karena kita melihatnya naik mobil mewah, tinggal di rumah yang megah, dsb. Kita tidak pernah tahu kondisi sebenarnya. Sebaliknya, jika kita melihat orang seperti Pak Tua tadi, kita langsung memberinya cap orang yang tidak mampu, miskin, kampungan. Padahal tahukah kita, bahwa sebenarnya keadaan yang sesungguhnya sangat jauh dari dugaan kita. Mungkin saja dia jauh lebih kaya dari kita, lebih sukses dari kita, bahkan lebih mulia hatinya daripada kita.
Bagaimana menurut Anda?




0 comments:
Post a Comment