Tidak Sembarang Menuding

Setiap hari dapat kita saksikan di sekitar kita, betapa banyak di antara kita (bahkan mungkin kita sendiri) begitu mudah menuding sana-sini demi membela sebuah pendirian, pendapat, kepentingan atau maksud tertentu. Apalagi menjelang Pipres 2009 yang tinggal beberapa hari lagi, setiap hari di televisi, surat kabar, internet dan media massa lainnya kita saksikan bagaimana antar kubu peserta pemilu bertarung, saling serang dan saling tuding. Semua bertujuan sama, jadi pemenang pemilu.

Terlepas dari benar atau tidaknya sebuah tudingan, tetapi sebaiknya dipertimbangkan dulu baik-buruknya dan manfaat-madharatnya. Sebab, tudingan yang tanpa dasar dan bukti yang benar justru akan menimbulkan kerugian bagi kedua belah pihak. Pihak yang dituding tentu akan dirugikan jika ternyata tudingan yang ditujukan kepadanya tidak benar. Atau, jika pihak yang dituding tidak terima karena nama baiknya tercemarkan lalu kemudian ia menyerahkan urusannya kepada pihak berwajib, maka yang akan terjadi justru masalah baru yang lebih besar.


Kadang orang tidak sadar bahwa saat ia menuding orang atau pihak lain, sebenarnya menunjukkan kesalahan atau keburukan itu kepada dirinya sendiri. Mengapa demikian?
Mari kita renungkan bersama. Menuding ibarat kita menunjukkan jari telunjuk kita kepada orang lain. Satu jari diacungkan, sementara empat jari lainnya ditekuk dan tiga di antaranya mengarah kepada kita sendiri. Menuding sekali ke arah orang lain sama halnya menuding 3 kali lebih banyak kepada diri kita. Mengumbar aib orang lain sekali sama dengan menunjukkan aib kita sendiri 3 kali lipat. Menuduh orang lain bersalah sekali sama dengan menimpakan kesalahan itu 3 kali kepada kita sendiri. Menuding orang lain sebagai orang yang tidak becus sekali sama dengan menunjukkan 3 kali ketidak-becusan kita, dan sebagainya.

Oleh karena itu, tidak ada salahnya kalau kita pertimbangkan dulu baik-buruk, untung-ruginya sebelum menuding orang lain. Apakah kita memang benar-benar tahu letak kesalahan orang lain, atau, hanya mendengar kabar yang belum tentu kebenarannya. Klarifikasi dulu masalahnya dengan baik-baik dan hati yang bersih. Insyaallah tidak akan sampai menimbulkan kerugian, baik diri kita sendiri maupun orang lain. Beberapa nasehat dari orang-orang bijak berikut ini kiranya patut kita renungkan :

" Orang yang menceritakan kesalahan orang lain, maka dialah pertama yang bersalah atau yang sebenarnya bersalah " (Ali bin Abi Thalib r.a.)

" Orang yang bijaksana akan berpikir dua kali sebelum bicara sekali " (Robert Charles Benchley)

" Hendaklah berpikir dua kali sebelum bicara, karena telinga dua dan lidah hanya satu. Orang yang bijaksana selalu berlidah di hati, sedangkan orang jahat berlidah-lidah. Karena itu, yang berkata hati, bukan lidah " (Djamalus Djohan)

" Adalah semudah-mudah pekerjaan di dunia, yaitu mencela, sedang memperbaiki itu adalah paling sukar " (Djamalus Djohan)

www.ihsan.co.nr

Baca Juga Yang Ini



0 comments:

Post a Comment