Melanjutkan postingan-postingan terdahulu, maka postingan kali ini adalah mengenai kiat sehat dengan konaah atau qonaah, yang merupakan bagian terakhir dari SETIK. Qonaah adalah menerima apa adanya, ikhlas dengan kondisi yang sedang dialami, apapun keadaannya. Orang Jawa sering menyebutnya “narimo ing pandum”.
Menerima apa adanya sering disalah artikan sebagai sikap pasrah terhadap sebuah kondisi atau situasi yang dialami oleh seseorang. Pasrah, selanjutnya akan memicu sikap malas berusaha. Sikap inilah yang dituding menjadi penyebab sebuah kemunduran atau penghambat keberhasilan seseorang dalam meraih tujuan, cita-cita atau keinginan seseorang.
Lalu bagaimana sebenarnya qonaah itu? Nasehat dari orang-orang bijak mengatakan, qonaah mengandung 2 unsur pokok, yaitu syukur dan ikhlas. Pribadi yang qonaah mampu mensyukuri apapun yang diperoleh atau dicapainya. Baginya, selalu ada yang bisa disyukuri dalam setiap proses yang dilaluinya, sekalipun itu sebuah kegagalan. Situasi atau kondisi apapun yang dialaminya akan selalu disikapi dengan penuh keikhlasan.
Tetapi apakah hanya cukup sampai pada tahap syukur dan ikhlas saja? Sikap qonaah mestinya juga diikuti dengan evaluasi atau introspeksi diri. Orang yang qonaah akan selalu menemukan hikmah dari setiap peristiwa yang dialaminya. Setiap peristiwa, baik atau buruk, merupakan sebuah pembelajaran yang tak ternilai harganya. Terdapat banyak hal yang mendorong seseorang menemukan letak kesalahan, kekurangan bahkan peluang lain yang bisa digunakan meramu formula baru untuk mendatangkan kebaikan-kebaikan di masa yang akan datang.
Ada seorang yang memiliki toko kelontong, suatu saat jualannya sepi, tidak ada pembeli. Ia hadapi situasi itu dengan ikhlas dan rasa syukur. Baginya, dengan situasi yang seperti itu justru semakin mendekatkannya kepada Tuhan untuk selalu beribadah dan berdo'a sehingga hatinya selalu tenang dan pikirang selalu jernih. Kelapangan hati membuatnya lebih cerdas dalam berpikir; melakukan introspeksi dan evaluasi demi evaluasi faktor apa saja yang sekiranya membuat tokonya sepi pembeli. Selanjutnya adalah mencari solusi-solusi untuk memajukan usahanya.
Inilah rahasia awet sehat seorang nenek yang pernah disampaikan kepada saya, ditinjau dari aspek kejiwaan. Kuncinya adalah selalu bersyukur, mengendalikan emosi (terutama emosi negatif), tawakal, ikhlas dan k(q)onaah. Kelima hal tersebut menjadikan hati lebih tenteram dan pikiran lebih jernih, jauh dari gangguan psikhis. Kondisi mental yang sehat menjadikan otak bekerja dengan semestinya; fungsi metabolisme dan sistem tubuh yang lain berjalan dengan baik. Pada akhirnya fisik juga akan sehat, terhindar dari serangan penyakit. Sebaliknya, kondisi mental yang tidak sehat (stres dengan berbagai tingkatan) dapat menyebabkan kerja otak menjadi tidak normal; nafsu makan berkurang atau sebaliknya yang dapat mengganggu keseimbangan metabolisme, tekanan darah meningkat (hipertensi) yang dapat berpotensi stroke, gangguan ritme jantung (detak jantung menjadi lebih cepat), produksi asam lambung meningkat yang dapat memicu sakit mag, dsb.
Bagaimana menurut Anda?




1 comments:
artikelnya sungguh menentramkan hati mas.. terima kasih..
Post a Comment