Sehat Dengan SETIK (Bagian 3)

Pada postingan terdahulu, saya telah menyampaikan kiat sehat dengan cara berSyukur dan mengendalikan Emosi. Nah, pada postingan kali ini akan saya sampaikan SETIK bagian 3, yaitu Tawakal. Semoga postingan yang singkat ini bermanfaat.

Banyak orang beranggapan bahwa tawakal adalah pasrah pada nasib atau sikap putus asa dalam menghadapi sesuatu hal. Orang merasa tidak akan mampu menyelesaikan pekerjaan karena merasa dirinya hanya orang yang bodoh. Atau, ketika seseorang mengalami kegagalan dalam suatu urusan, ia mengatakan bahwa hal itu memang sudah menjadi nasibnya, dan sebagainya.


Anggapan tersebut keliru. Manusia dikaruniai kemampuan dan keistimewaan yang lebih daripada makhluk Allah yang lain. Cipta, rasa dan karsa yang dimilikinya menjadikan manusia bisa meraih apa saja yang diinginkannya. Jadi bukan pasrah, menunggu keajaiban datang memenuhi keinginan dan kebutuhannya. Dan juga bukan tidak mau berusaha untuk berhasil.

Lalu, tawakal itu bagaimana? Tawakal merupakan sikap penyandaran diri kepada Sang Khalik setelah melakukan usaha (ikhtiar) sesuai dengan kemampuannya. “Tawakal adalah penyandaran hati pada Allah ‘azza wa jalla untuk meraih berbagai kemaslahatan dan menghilangkan bahaya baik dalam urusan dunia maupun akhirat, menyerahkan semua urusan kepada-Nya serta meyakini dengan sebenar-benarnya bahwa tidak ada yang memberi, menghalangi, mendatangkan bahaya, dan mendatangkan manfaat kecuali Allah semata” (Ibnu Rajab Al Hanbali)

Sekali lagi, tawakal bukan meniadakan usaha. Bahkan Allah SWT memerintahkan kita untuk berusaha sekaligus bertawakal. Dan Rasulullah SAW memberi perumpamaan orang yang bertawakal dan diberi rizki itu bagai burung yang pergi di pagi hari untuk mencari rizki dan pulang pada sore hari, padahal burung itu tidak memiliki sandaran apapun, baik perdagangan, pertanian, pabrik atau pekerjaan/keahlian tertentu. (diadaptasi dari HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al Hakim)

Bagaimana menerapkan tawakal ? Dalam bertawakal, kita perlu menanamkan dalam hati kita beberapa hal, yaitu :
  • Keharusan melakukan usaha atau ikhtiar. Tidak ada keberhasilan yang bisa diraih tanpa usaha dan kerja keras. Mengutip tulisan Trieand dalam blognya Mas Arief, bahwa tak ada yang instant dalam meraih kusuksesan.
  • Keyakinan atau optimisme. Mindset positif ini dapat meningkatkan etos kerja. Seseorang yang menginginkan dirinya berhasil tidak boleh pesimis, karena hanya akan melemahkan ikhtiar yang dilakukan.
  • Menyandarkan hati sepenuhnya dan husnudzan (berbaik sangka) kepada Allah SWT.
  • Menyerahkan, mewakilkan, mengharapkan, dan memasrahkan segala sesuatu hanya kepada Allah SWT (bukan yang lain). Dan hal inilah yang merupakan hakekat dari tawakal.
Bertawakal dapat menjadikan hati tenang, jauhkan diri kita dari gelisah, cemas dan bahkan stress.

Bagaimana menurut Anda?

www.ihsan.co.nr

Baca Juga Yang Ini



0 comments:

Post a Comment